Posted by: achmadrivainoor | February 14, 2009

Fungsi Guna Hutan

PERAN HUTAN DALAM PENCEGAHAN BENCANA BANJIR
Oleh: H.A.Rivai Noor

Wilayah Propinsi Kalimantan Selatan yang luasnya lebih kurang 3.753.051 ha, keberadaannya dibelah oleh pegunungan Meratus yang membujur arah utara-selatan, sehingga terdapat dua wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) yaitu wilayah DAS bagian barat dan DAS bagian timur.
Daerah aliran sungai dapat dianggap sebagai suatu ekosisitem, dengan demikian dalam suatu ekosistem tidak ada satu komponenpun yang berdiri sendiri, melainkan ada keterkaitan komponen yang satu dengan komponen lainnya, baik langsung maupun tidak langsung. Aktivitas suatu komponen ekosistem selalu berpengaruh pada komponen ekosistem lainnya.
Ekosistem DAS dibagi menjadi daerah hulu, tengah dan hilir. Daerah hulu dicirikan sbb: merupakan daerah konservasi yang berfungsi perlindungan terhadap tata air dan flasma nutfah, daerah dengan kemiringan yg besar, dan bukan daerah rawan banjir,. Daerah hilir adalah daerah dengan kemiringan relatip kecil, merupakan daerah penampungan genangan air (terutama daerah rawa) dan dan daerah daratan rawan banjir, daerah pemanfaatan, pengaturan pemakaian air ditentukan oleh bangunan irigasi. Daerah aliran sungai bagian tengah merupakan daerah transisi dari daerah hulu dan hilir. Daerah hulu dan hilir mempunyai keterkaitan biofisik melalui siklus hidrologi.
Sejak bulan Desember 2008 sampai akhir bulan Februari 2009 curah hujan di Indonesia pada umumnya dan Kalimantan Selatan pada khususnya relatip sangat tinggi dan berakibat banjir di berbagai wilayah. Khusus Kalimanan Selatan, daerah banjir yang terparah meliputi Kabupaten Banjar, Tanah Bumbu, Tanah Laut dan HSS. Menurut Newson (1985) banjir adalah sebagai air yang meluap keluar melebihi wadahnya (sungai) karena terbatasnya daya tampung sungai, sehingga badan sungai tidak mampu menampung air permukaan yang masuk. Dampak lanjutan dari banjir tersebut adalah kerusakan tanaman padi yang cukup luas, kerusakan infra struktur berupa jalan, kesengsaraan masyarakat yang terkena banjir, dll.
Menurut Kepala BP DAS Barito, ( BPost 5 Februari 2008 ) ada lima faktor penyebab banjir, yaitu (1) curah hujan, (2) tingkat kelerengan wilayah, (3) vegetasi penutup tanah dan (4) jenis tanah serta (5) system drainase. Dari lima faktor tersebut ada tiga faktor seperti curah hujan, tingkat kelerengan dan jenis tanah, faktor tersebut adanya secara alamiah dan tidak dapat diubah. Sedangkan dua faktor lainnya seperti vegetasi penutup tanah berupa hutan yang berfungsi sebagai perlindungan terhadap tata air yang ada di hulu dan system drainase serta daerah resapan air yang ada di hilir dapat diperbaiki oleh manusia.
Faktor vegetasi penutup tanah berupa hutan yang ada di Kalimantan Selatan, telah mengalami deforestasi dan degradasi. Faktor pendorong terjadinya deforestasi dan degradasi hutan secara langsung adalah kegiatan penebangan hutan, penebangan liar, dan kebakaran hutan yang tidak dapat dikendalikan. Penyebab tidak langsung adalah kegagalan kebijakan misalnya pemberian ijin HPH yang tidak menjadi insentif untuk melakukan penanaman pengayaan (Ani A.N dan Lukas R. 2008), dan perubahan system pemerintahan yang sentralistik ke system desentralistik, berupa kegiatan konversi hutan banyak dilakukan untuk pengunaan lain seperti untuk kegiatan perkebunan dan pertambangan.
Menurut Gubernur Kalsel dalam ekspose hasil penelitian Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru (BPost, 10 Sept’ 2007) menyebutkan , total jumlah lahan potensial kritis, agak kritis, s/d sangat kritis mencapai 813.367 hektar termasuk kawasan hutan lindung seluas 558.000 hektar dari luas kawasan hutan lindung seluas 620.000 hektar. Menurut Kepala Dinas Kehutanan Prop.Kalsel bahwa hanya tinggal 10 % atau 62.000 hektar kawasan hutan lindung yang masih berupa hutan virgin. Dengan kerusakan hutan seperti diatas tersebut, menyebabkan keseimbangan alam menjadi jungkirbalik, yang berakibat fungsi dan peranan vegetasi berupa hutan juga terganggu, terjadilah musibah banjir dll.
Mengingat peran vegetasi berupa hutan tersebut dalam mencegah dan mengendalikan banjir, dapat dibayangkan apa yang akan terjadi jika air hujan jatuh langsung di permukaan tanah terbuka tanpa bervegetasi maka musibah banjirlah yang datang. Fungsi hidro-orologis suatu DAS akan optimal jika daerah-daerah yang berkelerengan tinggi dalam suatu DAS dipertahankan tetap berhutan.
Unsur vegetasi penutup tanah yang diduga penyebab banjir adalah vegetasi non hutan seperti semak, , belukar muda, padang alang-alang dan ladang berpindah. Tipe vegetasi ini banyak ditemukan di punggung dan puncak gunung pada kelerengan curam dan sangat curam, yang berpeluang menimbulkan bahaya banjir, erosi dan tanah longsor.
Hutan yang ada di pegunungan Meratus yang berstatus sebagai kawasan hutan lindung harus tetap dipertahankan sebagai kawasan perlindungan , karena selain pengamanan kelestarian plasma nutfah berupa flora dan fauna, juga untuk pengamanan fungsi hidro-orologis DAS bagian hulu. Fungsi hidro-orologis DAS ini sebagai sumber mata air yang dapat mencegah kekeringan di musim kemarau dan dapat mencegah banjir di musim hujan.
Untuk pengurusan kawasan hutan lindung, sudah saatnya dibentuk Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL), dengan adanya KPHL tersebut mempunyai peluang:
*Memperbaiki tatakelola pada kawasan hutan lindung
*Memperkecil laju degradasi hutan
*Mempercepat rehabilitasi dan reforestasi
*Meningkatkan perlindungan dan pengamanan hutan
* Meningkatkan manfaat hutan bagi masyarakat di dalam dan sekitar hutan
* Fasiltas untuk memasuki carbon market.
Dengan kehadiran KPHL di lokasi kawasan hutan lindung dan dengan segala aktivitasnya diharapkan akan dapat dicapai pengelolaan hutan lestari pada kawasan hutan lindung tersebut.

Posted by: achmadrivainoor | December 21, 2008

PERAN HTI

PERAN PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN INDUSTRI (HTI) DI KALIMANTAN SELATAN

H.Achmad Rivai Noor

Sejarah pengelolaan hutan alam di Indonesia dimulai sejak dikeluarkannya penerbitan ijin Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dari tahun 1975 sampai 1990, sementara awal tahun 1990-an hingga 1997 terfokus pada pengelolaan hutan di luar kawasan hutan. Periode terakhir dari tahun 1998 sampai sekarang, Indonesia mengalami perubahan besar di bidang politik dengan penggantian dari pemerintahan Orde Baru ke Era Reformasi. Perubahan tersebut diikuti perubahan dalam kebijakan pengelolaan hutan, yang bertujuan perbaikan kondisi perekonoman nasional. Perubahan yang dinamis tersebut berdampak negatif pada laju deforestasi dan degradasi hutan.

Faktor pendorong terjadinya deforestasi dan degradasi hutan secara langsung adalah kegiatan penebangan hutan, penebangan liar, dan kebakaran hutan yang tidak dapat dikendalikan. Penyebab tidak langsung adalah kegagalan kebijakan misalnya pemberian ijin HPH yang tidak menjadi insentif untuk melakukan penanaman pengayaan (Ani A.N dan Lukas R. 2008), dan perubahan system pemerintahan yang sentralistik ke system desentralistik, kegiatan konversi hutan banyak dilakukan untuk pengunaan lain seperti untuk kegiatan perkebunan dan pertambangan.

IMG#1

Menurut Gubernur Kalsel dalam ekspose hasil penelitian Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru (BPost, 10 Sept’ 2007) menyebutkan , total jumlah lahan potensial kritis, agak kritis, s/d sangat kritis mencapai 813.367 hektar dari luas wilayah Provinsi Kalmantan Selatan 3.753.051 hektar. Upaya yang dilakukan Dinas kehutanan dalam mereboisasi tahun 2007 seluas 12.490 Ha (B’Post 5 Juli 2007) andaikan keberhasilan mencapai 100 % maka diperlukan waktu yang cukup panjang yaitu 65 tahun untuk menyelesaikan upaya mereboisasi lahan kritis tersebut.

Salah satu upaya mempercepat menghutankan kembali lahan kritis dalam kawasan hutan produksi adalah melibatkan stakeholder yaitu para pengusaha yang berkeinginan membangun Hutan Tanaman Industri (HTI).

Beberapa keuntungan dengan terbangunannya Hutan Tanaman Industri a.l.

1. Menunjang keberadaan industri perkayuan dalam negeri dengan menyediakan bahan baku yang diperlukan secara mantap dan berkesinambungan. Industri perkayuan di Kalimantan Selatan pada periode 1975-1990 maju sangat pesat dengan kapasitas industri terpasang mencapau 3 juta m3 per tahun. Setelah tahun 1990-an pasokan bahan baku kayu terus menurun, sekarang sampai pada titik nadir, yaitu pasokan bahan baku kayu hanya sebesar 300.000 m3 per tahun,akbiatnya banyak industry perkayuan mengalami kolap dan terjadilah PHK besar-besaran.

Dengan dibangunnya Hutan Tanaman Industri diharapkan indutri perkayuan di Kalimantan Selatan akan bangkit lagi .Sebab produktivitas hutan tanaman industri per hektar cukup besar yaitu rata-rata 150 m3 . Jadi bila dalam 5 tahun kedepan terbangun Hutan tanaman industri di Kalsel sebesar 100.000 hektar atau rata-rata 20.000 hektar per tahun, maka mulai tahun 2018 akan dipanen kayu sebesar 3 juta m3 per tahun dst.

2. Menunjang peningkatan ekspor kayu olahan disamping memenuhi kebutuhan di dalam negeri. Kebutuhan kayu lokal per kabupaten/kota diperkirakan sebesar 150.000-300.000 m3 per tahun (hasil penelitian dari Tropenbos International di Kaltim, wawancara dgn Petrus G, 2008). Kalsel mempunyai 10 kabupaten/kota dengan demikian dibutuhkan kayu sebesar 1,5 juta m3 per tahun, sisanya dapat diekspor ke berbagai Negara.

3. Mempercepat pengembangan daerah tertinggal, dengan terbentuknya networking yang didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai. Sarana prasarana yang dibangun oleh pengelola hutan tanaman industri, jaringan jalan dari desa ke kota, posko kesehatan untuk pelayanan kesehatan bagi karyawan perusahaan dan masyarakat sekitarnya, pembangunan pendidikan/sekolah terutama tkt SD untuk anak-anak karyawan perusahaan dan masyarakat sekitarnya. Lainnya sarana olah raga untuk rekreasi dan menjaga kebugaran para karyawan.

4. Menciptakan lapangan kerja baru bagi sarjana kehutanan dalam membangun hutan tanaman, sarjana teknik utk bangunan base camp, jalan dan jembatan dalam areal hutan tanaman, dan berbagai tenaga lapangan, selain itu membuka lapangan usaha bagi masyarakat sekitarnya melalui pemberdayaan dan meningkatkan kapasitas kelembagaan masyarakat.

5. Memanfaatkan sumber daya alam dengan memelihara kelestariannya. Luas lahan kosong yang berupa lahan kritis cukup luas seperti disebut pada alinea 3 tulisan ini, sumberdaya lahan ini merupakan sumberdaya alam yang perlu kita memanfaatkan semaksimal mungkin agar bernilai ekonomis dan bernilai ekologis. Pemanfaatan ini juga bertujuan memelihara sumbedaya lahan agar tak tergradasi kearah yang lebih parah lagi

6. Meningkatkan pendapatan aseli daerah (PAD), berupa pendapatan PBB dan pajak-pajak lainnya.

7. Meningkatkan produktivitas lahan kawasan hutan dan kualitas lingkungan hidup Pada kawasan hutan produksi yang tidak produktip dengan dibangunnya hutan tanaman industri, produktivitas lahan kosong pada kawasan hutan produksi akan jadi jadi meningkat. Dengan teciptanya hutan tanaman industri akan tercipta pula iklim mikro terutama akan terserapnya CO2 di udara dalam jumlah besar , menurut data yang tercatat CO2 yang tersimpan dalam hutan dewasa, karbon stock dapat mencapai 300 ton per hektar (Nur Masripatin, 2008). Ini diharapkan dapat menurunkan gas emisi di udara. Faktor lain dengan terbangunnya hutan tanaman industri akan mensuplai Oksigen (O2) ke udara, setiap hektar hutan dapat mensuplai O2 untuk keperluan 150 orang . Peran lain adalah akan berfungsinya system hidrologi yang akan dapat mengurangi bencana banjir.

Hutan sebagai Sumberdaya Alam yang dapat diperbaharui (Renewable):

Hasil hutan berupa kayu, dapat dipergunakan berbagai keperluan antara lain sebagai bahan bangunan perumahan, berbagai perabot rumah tangga, berbagai perlengkapan pada peralatan kapal laut dan kendaraan roda empat dan lain-lain. Dari hasil hutan kayu dapat dibuat kertas berbagai kualitas, kertas tersebut ditujukan untuk meningkatkan kualitas intelektual berbagai lapisan masyarakat, mulai dari pemula yang melek hurup sampai tingkatan yang tertinggi seperti Presiden/Raja butuh kertas (bahan bacaan baik berita/informasi maupun ilmu pengetahuan). Kehutanan berperan penting dalam mendukung keberlanjutan berbagai industri primer yang menyediakan energy dan berbagai bahan bagi kita. Hutan Tanaman Industri yang lestari mendekati konsep hutan normal dimana terdapat (1) distribusi luas areal per kelas umur yang sama, (2) riap tumbuh jenis pohon yang ditanaman besar, (3) Stock tegakan hutan tanaman yang cukup. Dengan demikian jumlah luas etat tebangan pertahun sama dengan jumlah luas areal penanaman kembali pertahun, inilah yang disebut hutan sebagai sumberdaya alam yang dapat diperbaharui. Beda dengan bahan tambang, sekali tambang bila stocknya habis dan ia tak dapat diperbaharui.

IMG#2

Hasil hutan tidak langsung adalah berupa air dalam jumlah cukup dan kualitas yang baik. Air tersebut dihasilkan dari tata air yang diciptakan siklus hidrologi dalam kawasan hutan yang lestari dan dalam jumlah luas yang cukup. Sumber daya air ini dapat dimanfaakan sebagai pembangkit listrik tenaga air (PLTA) seperti di Riam Kanan. Di Kalimantan Selatan pada tahun 2008, jumlah luas hutan yang diusulkan pada Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi KalSel seluas lebih kurang 30,08 % dari total luas wilayah dan tapi kondisi hutannya cukup memprihatinkan. Di Pulau Jawa luas hutan kurang dari 30 % dari luas total wilayah, dan kondisi hutannya sangat kritis, dampak negatif yang terjadi pada musim hujan tahun 2008 banjir melanda sebagian dari wilayah Indonesia (Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dll). Sebagai perbandingan, di Negara Korea Selatan dan Kanada, luas wilayah berhutan sebesar 60 % dari total luas wilayahnya. Dengan jumlah luas hutan sebesar 60 % tersebut serta kualitas hutannya dalam kondisi baik dan terjaga, ini memungkinkan siklus hidrologi akan berfungsi dengan baik.Mahluk hidup termasuk manusia sangat membutuhkan air yang cukup dan berkualitas baik, bila hutannya lestari siklus hidrologi akan berjalan normal, tapi bila hutannya rusak berubah menjadi lahan kritis maka siklus hidrologinya terganggu. Pada musim hujan akan kebanjiran dan pada musim kemarau akan kekeringan, kedua kejadian alam diatas akan menyengsarakan kehidupan manusia.

Akhirnya, pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI) di Kalimantan Selatan sangatlah kita perlukan untuk membantu pemerintah dalam ikut menghutankan kembali kawasan hutan produksi yang kritis, sebab perannya ternyata sangatlah besar bagi pembangunan ekonomi dan kualitas lingkungan hidup.

Posted by: achmadrivainoor | November 22, 2008

Penelitian Tanaman Gaharu

PEMBERIAN MIKORIZA PADA TANAMAN Gaharu (Aquilaria malaccensis Lamk) DI BAWAH TRUBUSAN MANGIUM (Acacia mangium)

Pohon gaharu merupakan jenis pohon yang sejak lama dikenal oleh masyarakat, karena pohon tersebut sebagai penghasil gaharu. Gaharu ini sebagai komoditi perdagangan yang penting dalam industri parfum, kosmetik dan obat-obatan. Pada tahun 1995 CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) telah memasukkan Aquilaria malaccensis sebagai penghasil gaharu erbaik ke dalam daftar Appendix II.

Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara simbiosis dengan perakaran tanaman tingkat tinggi.Mikoriza secara mum terbagi atas 2 golongan, yaitu ekstomikoriza dan Endomikoriza.

foto015

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana pengaruh pemberian eksto dan edomikoriza terhadap pertumbuhan anakan gaharu.

Tanaman gaharu termasuk dalam kelompok tanaman semitoleran, maka dipilihlah trubusan akasia mangium sebagai habitatnya. Dengan maksud memperkaya jenis trubusan tersebut.

Lokasi penelitian berada di desa Sebuhur, Kecamatan Jorong, Kabupaten Tanah laut, Waktu mulai dilakukan kegiatan ini adalah bulan Februar1 2007.

foto016

Metode penelitian: perlakuan dengan pemberian (1) ekstomikoriza 1 tablet dan 2 tablet; (2) endomkoriza 1 gram dan 2 gram, serta control tanpa diberi mikoriza, setiap perlakuan diulang 15 kali sehingga jumlah tanaman yang ditanam sebanyak 150 anakan gaharu. Penanaman dilakukan dalam jalur yang dirumpang, dengan jarak tanaman 5 x 5 meter.

Pengamatan dilakukan pada bulan Februari 2008.

Hasil sementara dari penelitian ini sebagai berikut:

  1. Persentase tumbuh anakan gaharu sebesar 78 % atau jumlah tanaman yang hidup sebanyak 117 pohon dari 150 yang ditanam.
  2. Kualitas tanaman gaharu yang hidup adalah sebesar 14,66 % dari 78 % hidupnya merana yang lainnya tergolong baik.
  3. Rata-rata pertambahan tinggianakan gaharu berkisar antara 18,1 cm sampai 47,2 cm.
  4. Pengaruh pemberian mikoriza tersebut sebagai berikut, yaitu hanya pemberian 1 tablet ektomikoriza yang memberikan pengaruh terbaik pada pertumbuhan anakan tanaman gaharu tersebut
Posted by: achmadrivainoor | September 7, 2008

Pertumbuhan Tanaman Mahoni

PERTUMBUHAN TANAMAN MAHONI DI HUTAN RAKYAT DESA RANGGANG,KECAMATAN TANGKISUNG, KABUPATEN TANAH LAUT, KALSEL.

Dalam UU No.41/1999, hutan rakyat dimaksudkan sebagai hutan yang tumbuh di atas tanah yang dibebani hak milik. Hutan rakyat telah lama dikenal dan memberikan manfaat ganda kepada masyarakat luas, yaitu berupa manfaat jasa lingkungan, seperti pencegahan erosi dan banjir, meningkatkan kesuburan tanah, dan disamping itu juga dapat memberikan manfaat sosial ekonomi seperti dalam menciptakan kesempatan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat melalui perdagangan kayu. Menurut Mindawati, dkk. (2006), berdasarkan hasil rekapitulasi potensi dan jenis tanaman di hutan rakyat, untuk wilayah Kalimantan Selatan memiliki luas hutan rakyat sebesar 108.436.50 Ha dengan perkiraan potensi 2.021.661.00 m³. Sistem pengelolaan hutan rakyat yang coba dikembangkan di Kalimantan Selatan adalah dengan menanam salah satu jenis tanaman prospektif diantaranya Mahoni (Swietenia macrophylla King), Mahoni ditanam pada Desember tahun 2003, dengan jarak tanam 5 x 4 meter dengan luas lebih kurang 25 Ha, oleh kelompok tani Desa Ranggang. Sistem penanaman dilakukan dengan tumpang sari dengan setiap tahun dibua pergiliran tanaman palawija. Pengamatan pertama dilakukan sejak tanaman berumur 2,5 tahun, sampai saat ini telah diamati sebanyak 3 kali, akhir pengamatan bulan Juni 2008. Petak ukur pengamatan dibuat dengan Intensitas Sampling 2 % dan dibuat 5 petak ukur untuk diamati persentase hidup,diameter dbh, tinggi bebas cabang dan tinggi total serta kualitas batang tegakan mahoni. Hasil pengamatan ke 3 sebagai berikut, tegakan mahoni pada umur 4,5 tahun dari 5 petak ukur memiliki tinggi rata-rata sebesar 7,75 m dan rata-rata diameternya 10,52 cm. Persentase hidup mencapai 90 % dan derajat kesempurnaan tegakan berkisar 85 %. Kisaran range diameter tegakan pada umur 3,5 tahun sudah mengalami peningkatan, dimana tidak ditemukannya lagi kisaran diameter dibawah 5 cm, untuk kisaran range 5 cm ≤ Ø < 10 cm mengalami kenaikan kelas tingkat diameter dimana pada umur 3,5 tahun memiliki persentase 82,25% dan pada umur 4,5 hanya menjadi 35,86%. Pada kisaran range 10 cm ≤ Ø < 15 cm terdapat pertambahan persentase dengan nilai 62,45% yang pada tahun sebelumnya hanya 17,32%. Sedangkan untuk kisaran range 15 cm ≤ Ø < 20 cm sudah ditemukan sebesar 1,69% Volume per hektar, untuk volume tinggi bebas cabang sebesar 9,539 m3/ha, sedangkan potensi volume untuk tinggi total per hektarnya adalah 23,633 m³/ha. Jadi dalam luasan hutan rakyat pada umur 4,5 tahun yang luas arealnya 25 ha memiliki potensi volume untuk tinggi bebas cabang dan tinggi total adalah sebesar 238,47 m3 dan 590,82 m3 Riap berjalan tahunan (CAI) selama satu tahun ini (antara tahun 2007 dan 2008), untuk diameter memiliki riap sebesar 1,76 cm dan untuk riap tingginya sebesar 1,32 m. Jika dibandingkan dengan riap pada tahun 2007, yang lebih mengalami peningkatan adalah pada riap tinggi tegakan dengan nilai kenaikan riap mencapai 0,76 m. Sedangkan untuk riap volume per hektar selama setahun terakhir, untuk riap volume tinggi total sebesar 10,528 m3/ha dan riap volume tinggi bebas cabang sebesar 1,707 m3/ha. Riap rata-rata tahunan (MAI) pada umur 4,5 tahun memiliki nilai sebesar 5,25 m³/ha, dari hasil tersebut pertumbuhan tegakan mahoni pada hutan rakyat tersebut bisa dikatakan sudah cukup baik dalam hal perkembangannya

Posted by: achmadrivainoor | July 27, 2008

PERTUMBUHAN ANAKAN ULIN

RESPON PERTUMBUHAN ANAKAN ULIN (Eusderoxylon zwageri T et B) DENGAN PEMBERIAN EKTOMIKORIZA DI BAWAH TRUBUSAN AKASIA MANGIUM DI SEBUHUR KAB.TANAH LAUT

(Achmad Rivai Noor dan Yustina Savitri)

Jenis pohon Ulin termasuk dalam katagori toleran terhadap cahaya matahari, artinya pertumbuhannya memerlukan naungan, intensitas cahaya matahari yang dibutuhkan waktu masih anakan lebih kurang 37,5 s/d 45 % . Untuk itu percobaan penanaman Ulin dilakukan pada trubusan Akasia mangium yang berumur 4 tahun.

Pertumbuhan tanaman Ulin ini termasuk lambat, oleh karena itu perlu upaya memacu pertumbuhan Ulin tersebut pada tingkat anakan, pada penelitian ini dilakukan pemberian mikoriza berupa tablet ektomikoriza.

Penanaman dilakukan pada bulan Februari 2007 dengan Jarak tanam dibuat 5 x 5 meter, perlakuan pemberian tablet ektomikoriza 1 dan 2 tablet ditambah control, ada perlakuan lain tinggi tanaman Ulin dikelompokkan dalam tiga tingkatan tinggi anakan, setiap kombinasi perlakuan diulang 10 kali, jadi jumlahnya 3 x 3 x 10 = 90 tanaman.

Pengamatan tahun perama dilakukan pada bulan Februari 208, dengan hasil pengamatan sbb:

Persentase hidup tanaman Ulin adalah 56/90 x 100 % = 62,22 %, dan tinggi tanaman Ulin setelah satu tahun berjalan berkisar antara 29 – 95 cm dan rata-rata tinggi tanaman Ulin berkisar 61,4 cm. Kelompok tanaman Ulin dengan tinggi < 60 cm sebanyak 27 % dan tinggi tanaman Ulin 60 – 95 cm sebanyak 73 %. Perlakuan pemberian ektomikoriza tidak berpengaruh serta perbedaan tinggi tanaman juga tidak berpengaruh. Pengamatan ini akan berlanjut ke tahun-tahun berikutnya.

Posted by: achmadrivainoor | June 29, 2008

PERTUMBUHAN TANAMAN MERANTI (Shorea spp)

DI BAWAH TRUBUSAN AKASIA MANGIUM (Acacia mangium)

DI SEBUHUR, KEC. JORONG, KABUPATEN TANAH LAUT

(Ringkasan)

Tanaman Akasia mangium begitu mudah tumbuh di sembarang lahan kering di Kalimantan Selatan, baik lahan pasca tambang batubara maupun lahan padang alang-alang. Sehingga jenis ini sering dipakai untuk merehabilitasi lahan paca tambang batubara ataupun rehabilitasi lahan kritis yang berupa padang alang-alang. Bila ditebang selektip akan tumbuh trubusan ataupun anakan dari biji yang jatuh di bawah tegakan tersebut.

Tanaman Meranti sifat tumbuhnya termasuk tanaman semi toleran terhadap cahaya matahari, atau dengan perkataan lain, waktu semai tanaman ini butuh naungan lebih kurang 60 % atau butuh intensitas cahaya sekitar 40 %. Setelah pohon meranti dewasa tidak butuh naungan lagi, canopinya biasanya berada pada lapisan paling atas.
Gambar dibawah ini adalah perkembangan tanaman meranti berumur satu tahun.

Dari dua kondisi tersebut diatas penulis melakukan penelitian pendahuluan tentang pertumbuhan tanaman meranti di antara tanaman Akasia mangium tersebut, atau tepatnya penelitian penanaman meranti di areal trubusan Akasia mangium yang berumur 4 tahun.

Jarak tanam meranti yang ditanam 5 x 5 m di bawah trubusan Akasia mangium seluas lebih kurang 0,5 ha di Desa Sebuhur , areal ini milik PT. Inhutani III Unit manajemen HTI Pleihari. Waktu penanaman pada tgl 23 Februari 2007.Dua bulan setelah penanaman dilakukan pemupukan sebagai pupuk dasar dengan NPK mutiara dengan dosis 75 gram setiap anakan meranti tsb. Perlakuan yang diberikan dalam penelitian ini berupa pemberian mikoriza yaitu eksto dan indomikoriza berupa tablet. Pada bulan Februari 2008 dilakukan pengamatan pertama.

Hasil pengamatan: Persentase tumbuh sebesar 61/150 x 100%=40,67%, rata-rata tinggi tanaman meranti setelah satu tahun sebesar 76,85 cm dengan kisaran tinggi dari 31 cm sampai 235 cm. Pertumbuhan meranti dengan tinggi > 100 cm sebesar 25 % sisanya < 100 cm. Dari segi petumbuhan tinggi tanaman meranti perlakuan dengan pemberian ekstomikoriza (42,5 %)lebih baik dari tanpa mikoriza (38,39 %) maupun pemberian dengan indomikoriza (19,11%).

Posted by: achmadrivainoor | April 25, 2008

NO FOREST NO FUTURE

TIDAK ADA HUTAN TIDAK AKAN ADA MASA DEPAN (NO FOREST NO FUTURE):
Hutan adalah rumah dari mayoritas species kehidupan, bukan samudera, bukan padang rumput, melainkan ekosistem yang didominasi oleh pohon-pohonan.Tajuk pohon diatas adalah rumah dari jutaan burung-burung dan serangga dimana sebelumnya hanya ada udara yang tipis. Manfaat tajuk pohon dalam interior hutan, menjadikan lingkungan terjaga atau terlindungi dari terik matahari dan angin kencang. Dalam hutan lestari terkait adanya siklus hidrologi, siklus oksigen dan siklus karbon, ketiga siklus tersebut tidak ada pada yang lain selain hutan lestari. Dari hutan lestari akan mendukung semakin banyak species keragaman hayati (baik flora maupun fauna).Hutan lestari berperan penting dalam mendukung ekonomi berkelanjutan melalui penyediaan bahan baku industri primer yang dapat diperbaharui (Renewable) yang menyediakan energi dan bahan bagi kita seperti kertas untuk memperbaiki kemampuan baca tulis generasi kedepan, papan untuk pembangunan perumahan, aneka perabot rumah tangga, pemanas ruangan di daerah dingin dll. Hutan kota membuat kota lebih indah dan lebih hijau serta lebih nyaman.

Siklus hidrologi (Water cycle):

Jumlah kawasan hutan di Kalimantan Selatan pada tahun 2008 yang diusulkan dalam pada Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi KalSel seluas lebih kurang 30,08 % dari total luas wilayah dan kondisinya cukup memprihatinkan. Di Pulau Jawa luas hutan kurang dari 30 % dari luas total wilayah, dan kondisi hutannya sangat kritis, dampak yang terjadi pada musim hujan tahun 2008 banjir melanda sebagian dari pulau Jawa. Sebagai perbandingan di Negara Korea Selatan dan Kanada, luas wilayah berhutan sebesar 60 % dari total luas wilayahnya. Dengan jumlah luas hutan sebesar 60 % tersebut serta kualitas hutannya dalam kondisi baik dan terjaga, ini memungkinkan siklus hidrologi akan berfungsi dengan baik.Mahluk hidup termasuk manusia sangat membutuhkan air yang cukup dan berkualitas baik, bila hutannya lestari siklus hidrologi akan berjalan normal, tapi bila hutannya rusak berubah menjadi lahan kritis maka siklus hidrologinya terganggu. Pada musim hujan akan kebanjiran dan pada musim kemarau akan kekeringan, kedua kejadian alam diatas akan menyengsarakan kehidupan manusia.

Siklus Oksigen (Oxygen Cycle):

Siklus oksigen secara alami terjadi pada proses fotosintesis pada daun-daun pohon-pohon/tanaman, oleh karena itu hamparan hutan yang melingkar di bagian hatulistiwa bumi kita dalam keadaan normal maksudnya jumlah luas hutan cukup dan dalam kondisi baik berfungsi sebagai paru-paru dunia, jadi hutan bagian dari kehidupan mahluk di dunia. Oksigen yang memberikan napas kehidupan bagi ribuan organism dan menjadi tunggak penting mata rantai ekosistem. Keberadaan ekosistem ini dibutuhkan oleh kehidupan manusia di bumi. Betapa mahalnya oksigen ketika kita harus bayar sewaktu kita sakit pernafasan di rumah sakit, tapi orang tidak peduli terhadap siklus oksigen di alam ini. Para pencuri kayu menebang pohon semau gue di hutan (illegal logging), akhirnya hutan menjadi turun kualitasnya, akibatnya siklus oksigen jadi terganggu dan dampak lanjutannya banyak manusia kena penyakit ispa.

Siklus Karbon (Carbon Cycle):

Peran dari hutan di dalam siklus karbon sangat besar, dalam proses fotosintesis gas CO2 di atmosfir diserap oleh pohon-pohon yang tumbuh dalam hutan, melalui proses fotosintesis, diubah ke dalam bentuk material gula. Material gula ini kemudian digunakan sebagai energi dan beberapa material untuk membuat selulosa dan lignin yang merupakan komponen utama dari kayu. Pada hutan lestari siklus karbon berjalan normal, tapi kondisi hutan sekarang sangat memprihatinkan karena telah terjadi deforestasi dan degradasi hutan, ini menyebabkan siklus karbon jadi timpang. Gas CO2 di atmosfer jadi meningkat sehingga terjadi efek rumah kaca (Green House Efect), akibat lanjutnya adalah terjadi peningkatan suhu pada permukaan bumi, akibat lanjutan lagi es di kutub secara perlahan mencair, dampak berikutnya permukaan laut akan naik sehingga kota-kota di pinggir pantai akan tenggelam dan akan berdampak terhadap kehidupan manusia.

Keanekaragaman hayati (Biodiversity):

Peran dari hutan hujan tropis yang ada di Indonesia dalam mendukung keberadaan keanekaragaman hayati sangatlah besar. Keanekaragaman jenis flora dalam hutan ini melebihi 100 jenis pohon per hektar bahkan lebih bila lesser known species dimasukan. Keragaman jenis ini diikuti pula oleh keragaman umur, keragaman ukuran baik diameter maupun tinggi, juga diikuti oleh keragaman jenis fauna serta keragaman mikrobiologi hutan dan mikrobiologi tanah. Menurut Ari Soedarsono, (1993), Hutan Indonesia mengandung 10 % jenis tumbuhan berbunga dari seluruh dunia, 12 % jenis mamalia, 16 % jenis reptile dan 17 % unggas dari seluruh dunia. Keadaan ini menjadikan Indonesia dalam posisi urutan kedua dari tujuh negara mega biodiversity di dunia. Peran keanekaragaman hayati yang tinggi berart punya sumber genetis yang tinggi. Salah satu kepentingan Sumber genetis tersebut untuk farmakologi artinya sebagai sumber bahan baku obat-obatan dalam mendukung kehidupan manusia yang sehat dan bugar.

Hutan sebagai Sumberdaya Alam yang dapat diperbaharui (Renewable):

Hasil hutan berupa kayu, dapat dipergunakan berbagai keperluan antara lain sebagai bahan bangunan perumahan, berbagai perabot rumah tangga, berbagai perlengkapan pada peralatan kapal laut dan kendaraan roda empat dan lain-lain. Dari hasil hutan kayu dapat dibuat kertas berbagai kualitas, kertas tersebut ditujukan untuk meningkatkan kualitas intelektual berbagai lapisan masyarakat, mulai dari pemula yang melek hurup sampai tingkatan yang tertinggi seperti Presiden/Raja butuh kertas (bahan bacaan baik berita/informasi maupun ilmu pengetahuan). Kehutanan berperan penting dalam mendukung keberlanjutan berbagai industri primer yang menyediakan energy dan berbagai bahan bagi kita. Hasil hutan non kayu seperti daun dan buah sebagai bahan makanan dari berbagai satwa liar yang ada di hutan, dan sebagian satwa liar tersebut dipergunakan oleh manusia sebagai bahan makanan dan bahan lainnya. Hasil hutan non kayu lainnya getah dan buah dapat dipergunakan sebagai bahan dasar kosmetik dan wangi-wangian untuk memerbaiki kualitas kehidupan manusia zaman sekarang, banyak lagi hasil hutan non kayu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia seperti berbagai jamur, mikrobiologi hutan/ tanah. semua kebutuhan tersebut diproduksi oleh hutan dan hutan tersebut dapat diperbaharui, tidak seperti bahan galian tambang batubara, emas biji besi, sekali ditambang dan persediaannya habis ya tidak dapat diperbaharui.

Oleh karena itu disarankan lebih banyak menanam dan menumbuhkan pohon-pohonan agar dapat menggunakan lebih banyak hasil hutan kayu dan non kayu serta untuk keberlangsungan kehidupan manusia di muka bumi, karena pohon adalah jawaban terhadap banyak pertanyaan mengenai masa depan kita. Wallahualam.

Posted by: achmadrivainoor | April 20, 2008

PERDAGANGAN KARBON (CARBON TRADE)

Mengapa penting bagi Kalimantan Selatan ?

REDD singkatan dari Reducing Emission from Deforestation and Degradation), adalah program pemerintah dalam program pengucuran dana kompensasi pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan. REDD merupakan mekanisme internasional yang dimaksudkan untuk memberikan insentif bagi Negara berkembang yang berhasil mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan. Deforestasi adalah kehilangan/berkurangnya luas hutan akibat konversi untuk kepentingan lain. Yang dimaksud dgradasi hutan adalah kerusakan hutan yang menyebabkan turunnya kualitas sehingga fungsinya terganggu.

Siklus Karbon

Bila kita lihat unsur gas penyusun atmosfer terdiri dari 78 % nitrogen, 21 % oksigen, dan 1 % gas lainnya termasuk gas CO2. Justru yang banyak berubah sekarang ini adalah gas yang 1 %.

Sejak tiga dekade terakhir Jumlah gas CO2 meningkat di udara sebesar 30 % , dan gas CO2 ini masih terus meningkat rata-rata mencapai 0,4 % per tahun. Peningkatan gas CO2 ini gara-gara pembakaran bahan bakar batu bara dan gambut untuk kepentingan industri serta kebakaran hutan yang hampir terjadi setiap tahun. Sedangkan kemampuan tanaman terutama hutan dalam menyerap gas CO2 sangat kecil ,sebab di Indonesia pada umumnya dan Kalimanan Selatan pada khususnya telah kehilangan hutan  sebesar 140 hektar per hari, dan kejadian tersebut berlangsung sampai saat  ini. Gas CO2 dapat diikat oleh tanaman hutan seperti dalam proses fotosintesis sbb:

6CO2 + H2O —–C6H12O6 + 6 O2 ini terjadi siang hari, Pada siang dan malam hari terjadi proses respirasi pada tanaman hutan tsb sbb: C6H12O6 + 6O2 —–6 CO2 + 6 H2O + energy. Dengan berkurangnya luas hutan seperti tersebut gas CO2 yang ada diudara meningkat karena tidak terserap oleh proses fotosintesis. Dengan meningkatnya gas CO2 ini maka terjadilah efek rumah kaca (Green House Efect) sehingga terjadi peningkatan suhu pada permukaan bumi, yang ditengarai suhu permukaan bumi saat ini meningkat sebesar 0,74 oC.  Pada hutan klimaks gas CO2 yang diikat dalam fotosintesis sama dengan gas CO2 yang dikeluarkan pada Respirasi, sedangkan pada hutan muda gas CO2 yang diikat dalam fotosintesis lebih besar dari gas CO2 yang dikeluarkan oleh Respirasi, artinya gas Co2 dari sumber lainlah yang diikat lebih banyak. Dengan perkataan lain program penghutanan kembali lahan kritis sangat besar peranannya dalam menurunkan gas emisi CO2 yang ada diudara.

Dilihat dari sumber emisi menurut Stern, 2007 ada 8 sumber emisi yang dominan, yaitu:

1). Industri 14 %,   2). Waste 3 %,   3).Agrikultur 14 %,    4).Deforestasi dan degradasi hutan 18 %,

5). Transportasi 14 %,    6). Buildings 8 %,    7). Sumber tenaga pembangkit lainnya 24 % dan

8). Sumber energy lainna 5 %.

REDD penting bagi Indonesia karena tingkat kerusakan hutan di Indonesia cukup tinggi. Potensi pasar REDD dalam pengurangan emisi gas CO2 dari deforestasi dapat mencapai 10 sampai 50 % dengan harga karbon antara USD 7 – 20 per ton CO2.

Provinsi Kalimantan Selatan termasuk yang mempunyai andil yang cukup besar dalam deforestasi dan degradasi hutan. Data dari Walhi tahun 2001 lahan kritis mencapai 813.367 hektar. Lahan kritis tersebut diatas berada pada kawasan hutan produksi dan kawasan hutan lindung. Untuk merehabilitasi hutan kritis pada kawasan hutan tersebut diperlukan dana yang sangat besar, tentu Pemerintah Pusat dalam hal Dephut dan Provinsi KalSel tak mampu membiayainya. Seandainya kemampuan dana untuk merehabilitasi lahan kritis per tahun seluas 10.000 ha, maka diperlukan waktu 80 tahun lebih untuk dapat menyelesaikan upaya rehabilitasi lahan kritis di KalSel tsb.

Posted by: achmadrivainoor | April 11, 2008

Bagaimana Mengelola Hutan Lestari?

Acuan yang dipakai dalam Pengelolaan Hutan Tanaman Lestari (PHTL) dan Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL) adalah:

1. Standar LEI 5000, system PHTL

2. Pedoman LEI 5000, system PHPL

3. Tropenbos, hierarchical framework for the formulation of SFM standards

4. Guideline for the establishment and sustainable manajemen of planted tropical forest dari ITTO

5. ISO 14000

6. The principle and criteria for forest manajement of forest stewardship councils (FSC).

Pengelolaan hutan dapat dikatakan lestari bila memenuhi 3 kreteria yaitu:

1. Kelestarian produksi , adalah terjaminnya keberlangsungan pemanfaatan hasil hutan dan usahanya.

2. Kelestarian ekologi/lingkungan, adalah salah satu dimensi hasil pengelolaan hutan lestari yang dapat menjamin terpeliharanya fungsi ekosistem beserta komponennya (biotic dan abiotik) dalam jangka panjang.

3. Kelestarian sosial dan budaya, adalah salah satu dimensi hasil pengelolaan hutan lestari yang menjamin kesejahteraan da integrasi social melalui pelaksanaan jaminan akses dan control komuniti terhadap sumberdaya hutan, pengendalian dampak pengusahaan hutan terhadap komuniti, dan hubungan ketenagakerjaan yang harmonis antara unit manajemen dan pekerja.

Pengelolaan hutan lestari akan dapat dicapai melalui serangkaian strategi dan kegiatan manajemen yang tepat (dimensi manajemen).

Dimana dimensi manajemen itu terdiri dari:

1. Syarat keharusan telah terpenuhi, yaitu semua proses atau factor yang harus dipenuhi terlebih dahulu berupa (a) pemantapan kawasan, (b) penataan kawasan, dan (c) pengamanan kawasan

2. Inti kegiatan, yaitu semua proses yang harus dilakukan dalam suatu pengelolaan. Inti kegiatan ini berupa manajemen hutan yang terdiri dari (a) kelola produksi, (b) kelola lingkungan an (c) kelola social.

3. Syarat kecukupan, berupa penataan kelembagaan yang terdiri dari (a) penataan organisasi (b) peninkatan sumberdaya manusia dan (c) manajemen keuangan.

Dengan melakukan serangkaian strategi dan kegiatan manajemen yang tepat seperti diatas, akan dapat diwujudkan pengelolaan hutan lestari dari segi dimensi hasil (outcome).

Yang dimaksud dengan dimensi hasil (outcome) adalah:

1. Kelestarian fungsi produksi, berupa : (a) kelestarian sumberdaya, (b) kelestarian hasil hutan dan (c) kelestarian usaha.

2. Kelestarian fungsi ekologi/lingkungan berupa: (a) kelestarian kualitas lahan dan air dan (b) kelestarian keanekaragaman hayati.

3. Kelestarian fungsi social ekonomi dan budaya berupa : (a) kelestarian akses dan control komuniti, (b) kelestarian integrasi social dan budaya dan (c) kelestarian hubungan tenaga kerja

Posted by: achmadrivainoor | April 6, 2008

MEMBENAHI HUTAN KALIMANTAN

Sudah lama Indonesia mendapat sorotan dunia internasional atas pengelolaan hutan yang tidak memperhitungkan faktor kelestarian fungsi hutan. Pemerintah Orde Baru mengeksploitasi hutan secara besar-besaran untuk membiayai pembangunan. Perusahaan perkayuan yang kemudian bermunculan tanpa kendali, juga membabat hutan secara besar-besaran untuk memenuhi bahan bakunya. Kondisi itu mendorong munculnya illegal logging (pembalakan liar) hingga kini. Kondisi tersebut masih diperparah dengan maraknya usaha pertambangan maupun perkebunan kelapa sawit dalam kawasan hutan.

Data Dinas Kehutanan Kalimantan Selatan , total jumlah lahan potensal kritis, agak kritis, kritis dan sangat kritis mencapai 813.367 hektar dari luas wilayah Provinsi Kalmantan Selatan 3.753.051 hektar. Menurut Gubernur Kalsel dalam ekspose hasil penelitian Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru dan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) mencatat, pada 2001 daerah berhutan d Kalsel masih 987.041,14 hektar. Satu tahun kemudian tinggal 935.900 hektar, hilang 51.141 hektar per tahun atau 140 hektar per hari.

Angka di atas baru terjadi di Kalsel, belum lagi di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Daerah tersebut juga tidak lepas dari perambahan maupun alih fungsi hutan menjadi kawasan pertambangan atau perkebunan yang tidak terkontrol. Begitu pula dalam soal perambahan hutan. Di Kalbar cukong-cukong membabat hutan yang berbatasan dengan Serawak. Sedangkan di Kalteng kayu di kawasan hutan lindung pun di gasak penjarah.

Kerusakan sumber daya hutan mengakibatkan kerusakan lingkungan di wilayah Kalsel saat ini sangat parah, hal ini terbukti dengan meningkatnya intensitas terjadinya banjir, yang rata-rata terjadi setiap tahun. Jumlah gas karbon dioksida (CO2) meningkat rata-rata mencapai 0,4 % per tahun. Gara-garanya , karena pembakaran bahan bakar fosil dan hutan gundul yang tak mampu menyerap CO2 dalam reaksi fotosintesis.

Gerakan rehabilitasi hutan dan lahan memang dilakukan, namun hasilnya belum mampu menutupi kerusakan sumberdaya hutan yang ada. Karena gerakan rehabilitasi hutan dan lahan kalah cepat dengan kerusakan sumberdaya hutan. Apalagi pegunungan meratus jelas-jelas merupakan kawasan hutan lindung yang fungsinya sebagai kawasan penyangga kehidupan di Kalsel sudah dirambah oleh penambang batubara baik legal maupun illegal, yang memberikan andil cukup besar bagi kerusakan sumberdaya hutan dan lingkungan.

Hal diatas tidak bisa dibiarkan berlarut-larut, harus ada upaya pembenahan yang signifikan agar dimasa depan hutan di Kalimantan dapat tertata baik. Pembenahan hutan Kalimantan harus mengikuti kebijakan yang berintikan; 1) kebijakan ekonomi, dimana sumberdaya hutan sebagai penggerak utama pembangunan, 2) kebijakan sosial dan pendekatan kesejahteraan, dimana kehutanan diharapkan mampu mengantispasi permasalahan angkatan kerja, dan 3) kebijakan lingkungan atau konservasi, dimana hutan sebagai faktor penentu keseimbangan lingkungan.

Penyelenggaraan kehutanan yang baik yang sesuai Undang-undang No. 41/1999 tentang kehutanan terdiri darikegiatan perencanaan, pengelolaan, penelitian dan pengembangan, serta pengawasan. Dari keseluruhan kegiatan tersebut, implementasi kegiatan perencanaan di lapangan mutlak diperlukan, seperti terbentuknya wilayah pengelolaan hutan tingkat provinsi , tingkat kabupaten/kota dan tingkat unit pengelolaan.

Apakah revisi tata ruang yang diusulkan Pemprov Kalsel pada September 2007 ke Dephut cukup memadai dan logis, jawabannya belum tentu. Sebab menurut Kepala Badan Planologi persoalan tata ruang bukanlah sederhana, karena menyangkut sisi ruang, fakta yang ada dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bila kita analisis usulan revisi tata ruang yang diajukan ke Dephut merupakan dasar dalam rangka pemanfaatan sumberdaya alam, berarti ingin merubah kawasan hutan produksi tetap maupun terbatas untuk kegiatan perkebunan maupun pertambangan. Walaupun dalam usulan tersebut juga diberikan penjelasan adanya penambahan kawasan hutan lindung, sehingga jumlah kawasan hutan lindung dan budidaya di kalsel setara 36,08 % dari luas daratan Kalsel.

Jumlah kawasan hutan yang ditetapkan sebesar 36,08 % memang kelihatannya logis tapi yang kita butuhkan peranan fungsi dari kawasan hutan tersebut. Artinya kawasan seluas 36,08 % tersebut betul-betul ditutupi oleh hutan, dan kawasan hutan lindung terletak daerah kunci dengan fungsi utama adalah fungsi hidro-orologis, penyerapan CO2 sebagai pengurangan emisi gas karbon dioksida dan pensupplai oksigen yang member napas kehidupan bagi ribuan organisme dan menjadi tonggak penting mata ranrai ekosistem. Keberadaan ekosstem ini dibutuhkan oleh kehidupan manusia di bumi.

Dalam hal revisi tata ruang seluruh Indonesia Fakultas Kehutanan Unlam yang diwakili salahsatu unsure pimpinan masuk dalam tim terpadu dalam penyusunan revisi tersebut, terutama wilayah Kalsel,kita berharap rencana revisi ini menganut akidah yang berlaku dalam dunia kehutanan. Dan kesempatan inilah Fakultas kehutanan berusaha turut serta membenahi hutan Kalimantan umumnya dan Kalsel khususnya. Dalam implementasinya kita butuh sarjana kehutanan yang tangguh dan dalam jumlah yang besar utk membenahi hutan dan kehutanan. Diharapkan hasil dari pembenahan hutan Kalimantan 10 dan 20 tahun kedepan dapat meminimalisasi dampak kerusakan lingkungan seperti banjir, kekeringan, pemanasan global dan lain-lain yang merugikan masyarakat.

Older Posts »

Categories