Posted by: achmadrivainoor | April 20, 2008

PERDAGANGAN KARBON (CARBON TRADE)

Mengapa penting bagi Kalimantan Selatan ?

REDD singkatan dari Reducing Emission from Deforestation and Degradation), adalah program pemerintah dalam program pengucuran dana kompensasi pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan. REDD merupakan mekanisme internasional yang dimaksudkan untuk memberikan insentif bagi Negara berkembang yang berhasil mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan. Deforestasi adalah kehilangan/berkurangnya luas hutan akibat konversi untuk kepentingan lain. Yang dimaksud dgradasi hutan adalah kerusakan hutan yang menyebabkan turunnya kualitas sehingga fungsinya terganggu.

Siklus Karbon

Bila kita lihat unsur gas penyusun atmosfer terdiri dari 78 % nitrogen, 21 % oksigen, dan 1 % gas lainnya termasuk gas CO2. Justru yang banyak berubah sekarang ini adalah gas yang 1 %.

Sejak tiga dekade terakhir Jumlah gas CO2 meningkat di udara sebesar 30 % , dan gas CO2 ini masih terus meningkat rata-rata mencapai 0,4 % per tahun. Peningkatan gas CO2 ini gara-gara pembakaran bahan bakar batu bara dan gambut untuk kepentingan industri serta kebakaran hutan yang hampir terjadi setiap tahun. Sedangkan kemampuan tanaman terutama hutan dalam menyerap gas CO2 sangat kecil ,sebab di Indonesia pada umumnya dan Kalimanan Selatan pada khususnya telah kehilangan hutan  sebesar 140 hektar per hari, dan kejadian tersebut berlangsung sampai saat  ini. Gas CO2 dapat diikat oleh tanaman hutan seperti dalam proses fotosintesis sbb:

6CO2 + H2O —–C6H12O6 + 6 O2 ini terjadi siang hari, Pada siang dan malam hari terjadi proses respirasi pada tanaman hutan tsb sbb: C6H12O6 + 6O2 —–6 CO2 + 6 H2O + energy. Dengan berkurangnya luas hutan seperti tersebut gas CO2 yang ada diudara meningkat karena tidak terserap oleh proses fotosintesis. Dengan meningkatnya gas CO2 ini maka terjadilah efek rumah kaca (Green House Efect) sehingga terjadi peningkatan suhu pada permukaan bumi, yang ditengarai suhu permukaan bumi saat ini meningkat sebesar 0,74 oC.  Pada hutan klimaks gas CO2 yang diikat dalam fotosintesis sama dengan gas CO2 yang dikeluarkan pada Respirasi, sedangkan pada hutan muda gas CO2 yang diikat dalam fotosintesis lebih besar dari gas CO2 yang dikeluarkan oleh Respirasi, artinya gas Co2 dari sumber lainlah yang diikat lebih banyak. Dengan perkataan lain program penghutanan kembali lahan kritis sangat besar peranannya dalam menurunkan gas emisi CO2 yang ada diudara.

Dilihat dari sumber emisi menurut Stern, 2007 ada 8 sumber emisi yang dominan, yaitu:

1). Industri 14 %,   2). Waste 3 %,   3).Agrikultur 14 %,    4).Deforestasi dan degradasi hutan 18 %,

5). Transportasi 14 %,    6). Buildings 8 %,    7). Sumber tenaga pembangkit lainnya 24 % dan

8). Sumber energy lainna 5 %.

REDD penting bagi Indonesia karena tingkat kerusakan hutan di Indonesia cukup tinggi. Potensi pasar REDD dalam pengurangan emisi gas CO2 dari deforestasi dapat mencapai 10 sampai 50 % dengan harga karbon antara USD 7 – 20 per ton CO2.

Provinsi Kalimantan Selatan termasuk yang mempunyai andil yang cukup besar dalam deforestasi dan degradasi hutan. Data dari Walhi tahun 2001 lahan kritis mencapai 813.367 hektar. Lahan kritis tersebut diatas berada pada kawasan hutan produksi dan kawasan hutan lindung. Untuk merehabilitasi hutan kritis pada kawasan hutan tersebut diperlukan dana yang sangat besar, tentu Pemerintah Pusat dalam hal Dephut dan Provinsi KalSel tak mampu membiayainya. Seandainya kemampuan dana untuk merehabilitasi lahan kritis per tahun seluas 10.000 ha, maka diperlukan waktu 80 tahun lebih untuk dapat menyelesaikan upaya rehabilitasi lahan kritis di KalSel tsb.


Responses

  1. sangat menarik tapi, bagaimana caranya kita mengestimasi dan valuasi secara ekonomi nilai carbon dlm suatu kawasan hutan tersebut..? apa ada rumusnya bang..?

  2. @enviromentalis :
    saya yusuf bahtimi, salah satu mahasiswa fakultas kehutanan unlam,
    benar pak, info dari pa yudi kemarin beliau bilang kalau Australia sudah menghitung potensi hutan kalsel untuk REDD dengan menggunakan rumus dari ilmuwan australia, namun masih ada kerancuan, sebab jikalau dihitung menggunakan rumus kita sendiri, potensi hutan kalsel jauh lebih besar (sementara ditaksir oleh Australia Rp.600.000.000.000,-) dan potensi tersebut belum termasuk dengan lahan gambut kalsel,.
    dan @pa rivai, kira2 ada solusi bagaimana pak untuk mempublikasikan dan diakuinya perhitungan dengan menggunakan rumus sendiri tersebut, dan menambahkan potensi lahan gambut yang belum dihitung.
    Wallahu’alam


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: