Posted by: achmadrivainoor | December 21, 2008

PERAN HTI

PERAN PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN INDUSTRI (HTI) DI KALIMANTAN SELATAN

H.Achmad Rivai Noor

Sejarah pengelolaan hutan alam di Indonesia dimulai sejak dikeluarkannya penerbitan ijin Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dari tahun 1975 sampai 1990, sementara awal tahun 1990-an hingga 1997 terfokus pada pengelolaan hutan di luar kawasan hutan. Periode terakhir dari tahun 1998 sampai sekarang, Indonesia mengalami perubahan besar di bidang politik dengan penggantian dari pemerintahan Orde Baru ke Era Reformasi. Perubahan tersebut diikuti perubahan dalam kebijakan pengelolaan hutan, yang bertujuan perbaikan kondisi perekonoman nasional. Perubahan yang dinamis tersebut berdampak negatif pada laju deforestasi dan degradasi hutan.

Faktor pendorong terjadinya deforestasi dan degradasi hutan secara langsung adalah kegiatan penebangan hutan, penebangan liar, dan kebakaran hutan yang tidak dapat dikendalikan. Penyebab tidak langsung adalah kegagalan kebijakan misalnya pemberian ijin HPH yang tidak menjadi insentif untuk melakukan penanaman pengayaan (Ani A.N dan Lukas R. 2008), dan perubahan system pemerintahan yang sentralistik ke system desentralistik, kegiatan konversi hutan banyak dilakukan untuk pengunaan lain seperti untuk kegiatan perkebunan dan pertambangan.

IMG#1

Menurut Gubernur Kalsel dalam ekspose hasil penelitian Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru (BPost, 10 Sept’ 2007) menyebutkan , total jumlah lahan potensial kritis, agak kritis, s/d sangat kritis mencapai 813.367 hektar dari luas wilayah Provinsi Kalmantan Selatan 3.753.051 hektar. Upaya yang dilakukan Dinas kehutanan dalam mereboisasi tahun 2007 seluas 12.490 Ha (B’Post 5 Juli 2007) andaikan keberhasilan mencapai 100 % maka diperlukan waktu yang cukup panjang yaitu 65 tahun untuk menyelesaikan upaya mereboisasi lahan kritis tersebut.

Salah satu upaya mempercepat menghutankan kembali lahan kritis dalam kawasan hutan produksi adalah melibatkan stakeholder yaitu para pengusaha yang berkeinginan membangun Hutan Tanaman Industri (HTI).

Beberapa keuntungan dengan terbangunannya Hutan Tanaman Industri a.l.

1. Menunjang keberadaan industri perkayuan dalam negeri dengan menyediakan bahan baku yang diperlukan secara mantap dan berkesinambungan. Industri perkayuan di Kalimantan Selatan pada periode 1975-1990 maju sangat pesat dengan kapasitas industri terpasang mencapau 3 juta m3 per tahun. Setelah tahun 1990-an pasokan bahan baku kayu terus menurun, sekarang sampai pada titik nadir, yaitu pasokan bahan baku kayu hanya sebesar 300.000 m3 per tahun,akbiatnya banyak industry perkayuan mengalami kolap dan terjadilah PHK besar-besaran.

Dengan dibangunnya Hutan Tanaman Industri diharapkan indutri perkayuan di Kalimantan Selatan akan bangkit lagi .Sebab produktivitas hutan tanaman industri per hektar cukup besar yaitu rata-rata 150 m3 . Jadi bila dalam 5 tahun kedepan terbangun Hutan tanaman industri di Kalsel sebesar 100.000 hektar atau rata-rata 20.000 hektar per tahun, maka mulai tahun 2018 akan dipanen kayu sebesar 3 juta m3 per tahun dst.

2. Menunjang peningkatan ekspor kayu olahan disamping memenuhi kebutuhan di dalam negeri. Kebutuhan kayu lokal per kabupaten/kota diperkirakan sebesar 150.000-300.000 m3 per tahun (hasil penelitian dari Tropenbos International di Kaltim, wawancara dgn Petrus G, 2008). Kalsel mempunyai 10 kabupaten/kota dengan demikian dibutuhkan kayu sebesar 1,5 juta m3 per tahun, sisanya dapat diekspor ke berbagai Negara.

3. Mempercepat pengembangan daerah tertinggal, dengan terbentuknya networking yang didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai. Sarana prasarana yang dibangun oleh pengelola hutan tanaman industri, jaringan jalan dari desa ke kota, posko kesehatan untuk pelayanan kesehatan bagi karyawan perusahaan dan masyarakat sekitarnya, pembangunan pendidikan/sekolah terutama tkt SD untuk anak-anak karyawan perusahaan dan masyarakat sekitarnya. Lainnya sarana olah raga untuk rekreasi dan menjaga kebugaran para karyawan.

4. Menciptakan lapangan kerja baru bagi sarjana kehutanan dalam membangun hutan tanaman, sarjana teknik utk bangunan base camp, jalan dan jembatan dalam areal hutan tanaman, dan berbagai tenaga lapangan, selain itu membuka lapangan usaha bagi masyarakat sekitarnya melalui pemberdayaan dan meningkatkan kapasitas kelembagaan masyarakat.

5. Memanfaatkan sumber daya alam dengan memelihara kelestariannya. Luas lahan kosong yang berupa lahan kritis cukup luas seperti disebut pada alinea 3 tulisan ini, sumberdaya lahan ini merupakan sumberdaya alam yang perlu kita memanfaatkan semaksimal mungkin agar bernilai ekonomis dan bernilai ekologis. Pemanfaatan ini juga bertujuan memelihara sumbedaya lahan agar tak tergradasi kearah yang lebih parah lagi

6. Meningkatkan pendapatan aseli daerah (PAD), berupa pendapatan PBB dan pajak-pajak lainnya.

7. Meningkatkan produktivitas lahan kawasan hutan dan kualitas lingkungan hidup Pada kawasan hutan produksi yang tidak produktip dengan dibangunnya hutan tanaman industri, produktivitas lahan kosong pada kawasan hutan produksi akan jadi jadi meningkat. Dengan teciptanya hutan tanaman industri akan tercipta pula iklim mikro terutama akan terserapnya CO2 di udara dalam jumlah besar , menurut data yang tercatat CO2 yang tersimpan dalam hutan dewasa, karbon stock dapat mencapai 300 ton per hektar (Nur Masripatin, 2008). Ini diharapkan dapat menurunkan gas emisi di udara. Faktor lain dengan terbangunnya hutan tanaman industri akan mensuplai Oksigen (O2) ke udara, setiap hektar hutan dapat mensuplai O2 untuk keperluan 150 orang . Peran lain adalah akan berfungsinya system hidrologi yang akan dapat mengurangi bencana banjir.

Hutan sebagai Sumberdaya Alam yang dapat diperbaharui (Renewable):

Hasil hutan berupa kayu, dapat dipergunakan berbagai keperluan antara lain sebagai bahan bangunan perumahan, berbagai perabot rumah tangga, berbagai perlengkapan pada peralatan kapal laut dan kendaraan roda empat dan lain-lain. Dari hasil hutan kayu dapat dibuat kertas berbagai kualitas, kertas tersebut ditujukan untuk meningkatkan kualitas intelektual berbagai lapisan masyarakat, mulai dari pemula yang melek hurup sampai tingkatan yang tertinggi seperti Presiden/Raja butuh kertas (bahan bacaan baik berita/informasi maupun ilmu pengetahuan). Kehutanan berperan penting dalam mendukung keberlanjutan berbagai industri primer yang menyediakan energy dan berbagai bahan bagi kita. Hutan Tanaman Industri yang lestari mendekati konsep hutan normal dimana terdapat (1) distribusi luas areal per kelas umur yang sama, (2) riap tumbuh jenis pohon yang ditanaman besar, (3) Stock tegakan hutan tanaman yang cukup. Dengan demikian jumlah luas etat tebangan pertahun sama dengan jumlah luas areal penanaman kembali pertahun, inilah yang disebut hutan sebagai sumberdaya alam yang dapat diperbaharui. Beda dengan bahan tambang, sekali tambang bila stocknya habis dan ia tak dapat diperbaharui.

IMG#2

Hasil hutan tidak langsung adalah berupa air dalam jumlah cukup dan kualitas yang baik. Air tersebut dihasilkan dari tata air yang diciptakan siklus hidrologi dalam kawasan hutan yang lestari dan dalam jumlah luas yang cukup. Sumber daya air ini dapat dimanfaakan sebagai pembangkit listrik tenaga air (PLTA) seperti di Riam Kanan. Di Kalimantan Selatan pada tahun 2008, jumlah luas hutan yang diusulkan pada Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi KalSel seluas lebih kurang 30,08 % dari total luas wilayah dan tapi kondisi hutannya cukup memprihatinkan. Di Pulau Jawa luas hutan kurang dari 30 % dari luas total wilayah, dan kondisi hutannya sangat kritis, dampak negatif yang terjadi pada musim hujan tahun 2008 banjir melanda sebagian dari wilayah Indonesia (Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dll). Sebagai perbandingan, di Negara Korea Selatan dan Kanada, luas wilayah berhutan sebesar 60 % dari total luas wilayahnya. Dengan jumlah luas hutan sebesar 60 % tersebut serta kualitas hutannya dalam kondisi baik dan terjaga, ini memungkinkan siklus hidrologi akan berfungsi dengan baik.Mahluk hidup termasuk manusia sangat membutuhkan air yang cukup dan berkualitas baik, bila hutannya lestari siklus hidrologi akan berjalan normal, tapi bila hutannya rusak berubah menjadi lahan kritis maka siklus hidrologinya terganggu. Pada musim hujan akan kebanjiran dan pada musim kemarau akan kekeringan, kedua kejadian alam diatas akan menyengsarakan kehidupan manusia.

Akhirnya, pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI) di Kalimantan Selatan sangatlah kita perlukan untuk membantu pemerintah dalam ikut menghutankan kembali kawasan hutan produksi yang kritis, sebab perannya ternyata sangatlah besar bagi pembangunan ekonomi dan kualitas lingkungan hidup.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: